Jabatan dan Wasilah Kebajikan Teguh Wibowo

Menjadikan jabatan sebagai "wasilah" atau alat untuk menebar kebaikan tertanam kuat dalam benak dan pikiran AKBP Teguh Wibowo. Tugas baru sebagai Kapolres Pamekasan merupakan tantangan, sekaligus kesempatan. Disebut tantangan, karena ia harus bisa mengemban amanah sesuai dengan sumpah janji jabatan sebagai abdi negara (polisi), juga garis normatif dan etika agama, apalagi bertugas di daerah yang belum ia kenal sama sekali, yakni di Kabupaten Pamekasan. Sebagai kesempatan, karena dengan jabatan baru tersebut berarti memiliki kekuasaan yang lebih luas dibanding jabatan sebelumnya yang hanya sebagai kapolsek. Saat jadi kapolsek di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ia hanya memiliki beberapa orang anak saja. Namun setelah menjabat Kapolres Pamekasan, maka personel dari 13 polsek yang ada di Pamekasan berada dalam kendalinya.

Dengan jabatan sebagai Kepala Polres Pamekasan, maka sejatinya Teguh Wibowo hanya tinggal menggerakkan tongkat komandonya, dan anak buah akan mengikuti sesuai arahan sang komandan, karena memang seperti itulah, pola penerapan tata laksana dan tata kelola dalam sebuah institusi yang menerapkan sistem komando, seperti polisi dan TNI. Tidak mematuhi perintah komandan, maka akan sama halnya dengan melakukan pembangkangan. Belum lagi, kewenangan melekat yang dimiliki secara istimewa oleh lembaga ini yang tidak dimiliki oleh lembaga lain, seperti, melakukan penangkapan para orang dicurigai, melakukan penggeledahan, penyitaan barang bukti, dan berbagai jenis tindakan yang tidak bisa dilakukan orang pada umumnya, demi dan atas nama kepentingan penyidikan. Akan tetapi, komitmen kuat Teguh Wibowo adalah bagaimana menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk berbuat yang bermanfaat dan bernilai secara sosial dan agama.

Prinsip "Kullukum raa'in, wakullukum mas,ulum an ro'iyatihi (masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya)" merupakan doktrin teologis yang terpatri kuat di benak Teguh Wibowo. Dari doktrin ini, setidaknya ada tiga model pertanggungjawabakan harus dia lakukan, sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam melaksanakan dan mengemban amanah tugas-tugas kepemimpinan, yakni pertanggung jawaban teologis, sosiologis dan struktural institusi.

Pertanggung jawaban teologis merupakan bentuk pertanggung jawaban individu kepada Sang Kholiq, atas tindakan yang telah dilakukan sebagai pemimpin. Dalam konteks ini, yang menjadi kontrol secara langsung adalah Tuhan. Sedangkan pertanggung jawaban sosiologis adalah bentuk pertanggung jawaban kepada masyarakat dan lingkungan sekitar, dalam konteks ini adalah masyarakat Pamekasan, tokoh ulama dan elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Pamekasan. Apalagi, di era keterbukaan informasi publik seperti saat ini, masyarakat menjadi pengontrol ketat, dari berbagai program, sikap dan kebijakan yang dilakukan aparat negara, dalam konteks ini adalah polisi. Sementara, pada pertanggung jawaban struktural institusi, adalah bentuk pertanggung jawaban kepada institusi yang lebih tinggi, dalam hal ini Polda Jatim dan Polri.

Dalam pendangan Teguh Wibowo, ketiga model pertanggung jawaban ini harus, seiring-seirama, saling menunjang, dan saling melengkapi, bahkan harus seimbang antara pertanggung jawaban teologis, sosiologis dan pertanggung jabawan struktural institusi. Demikian halnya dengan kebijakan yang harus dijalankan, karena Teguh meyakini, bahwa kebijakan yang berorientasi pada para paradigma teologis yang di dalamnya mengandung nilai-nilai universal, tidak akan bertentangan dengan paradigma sosiologis dan struktural institusi, karena orientasi dasarnya sudah jelas, yakni Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.

Implementasi Menyambut Tahun 2018
Menjadikan jabatan sebagai wasilah untuk menebar kebajikan yang ia yakini sebagai bentuk implementasi dari tugas kemanusiaan manusia di muka bumi ini, sebagaimana komitmen Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo, tidak hanya dalam bentuk pernyataan dan slogan saja, akan tetapi benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata. Misalnya saat menyambut pergantian Malam Tahun Baru 2018 yang biasa dirayakan oleh sebagian masyarakat di kabupaten berselogam "Gerbang Salam" ini dengan melakukan konvoi kendaraan bermotor keliling kota.

Seperti dilansir skananews.com (23/12/2017), Kapolres Pamekasan Teguh Wibowo justru meminta masyarakat untuk tidak keluar rumah, dan melakukan konvoi kendaraan bermotor dengan berbagai pertimbangan. Selain hanya akan mengganggu ketertiban umum, konvoi dengan kendaraan bermotor, apalagi dengan kendaraan roda empat yang menggunakan bak terbuka, merupakan bentuk pelanggaran terhadap aturan lalu lintas.

Pertimbangan manfaat dan mudharat terkait kebijakan ini merupakan pertimbangan pokok. Ia mendasari kebijakannya pada tiga hal, yakni teologis, sosiologis dan institusi struktural. Dari sisi teologi, kegiatan yang kurang bermanfaat (hura-hura) adalah tindakan terlarang dari sisi ajaran agama manapun. Teguh Wibowo memandang bahwa dampak buruk dari kegiatan hura-hura, apalagi sampai joget dugem di jalan raya, merupakan bentuk kegiatan yang kurang bermanfaat sama sekali. Sedangkan dari sisi sosial, konvoi kendaraan bermotor akan mengganggu pengendara lain, bahkan berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas, karena kapasitas penumpang, biasanya tidak sesuai dengan target maksimal muatan. Sementara dari sisi institusi struktural, membiarkan terjadinya pelanggaran lalu lintas, adalah sama dengan tidak melaksanakan amanat ketentuan perundang-undangan yang berlaku. "Jadi, lebih baik shalawatan saja di masjid-masjid dan mushalla memohon kepada Allah SWT agar tahun depan kita bisa lebih baik," katanya, kala itu.

Seruan untuk bershalawat ini dalam perkembangannya, tidak hanya sebatas seruan belaku, akan tetapi Teguh mengharusnya keluarga besar Polres Pamekasan beserta warga sekitar untuk mengikuti pengajian dan  shalawatan di Masjid Mapolres Jalan Stadion Pamekasan. "Bagi anggota aktif wajib ikut pengamanan. Tapi anak-anak dan suami polwan serta anggota Bhayangkari bisa ikut pengajian dan shalawatan di masjid polres," kata Teguh Wibowo, seperti dilansir mediamadura.com, Sabtu (23/12/2019).

Teguh yang dilantik jadi Kapolres Pamekasan Kamis 30 November di Mapolda Jatim ini, ingin suasana malam pergantian tahun di Pamekasan berjalan aman, nyaman dan kondisif. Bahkan, Teguh telah meminta ormas Islam di Pamekasan agar menggelar shalawatan dan pengajian di masjid-masjid terdekat pemukiman.

Sebagai antisipasi, Polres Pamekasan bahkan menerjunkan sedikitnya 530 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, Dinas Perhubungan (Dishub), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Pramuka dan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (Orari) khusus pengamanan pergantian Malam Tahun Baru 2018 kala itu guna menjaga keamanan dan ketertiban. Selain itu, para personel ini juga disiagakan untuk mengamankan kaum Nasrani yang menyambut perayaan Hari Raya Natal. Semua itu dilakukan sebagai upaya untuk menciptakan suasana kondusif, aman dan tenang, sehingga masyarakat merasa nyaman, tanpa gangguan yang berarti.

"Segenap elemen masyarakat harus bekerja sama menciptakan Pamekasan yang kondusif. Mudah-mudahan pergantian tahun bisa dinikmati dengan aman dan nyaman. Seyogyanya, kita bisa mengisi pergantian tahun dengan kegiatan positif dan kegiatan agama,” katanya, menambahkan.

Pendidikan Publik Diutamakan
Jika ketentuan hukum telah ditetapkan dan diundangkan, maka semua orang sudah dianggap mengetahuinya. Demikian ketentuan perundang-undang secara normatif. Artinya, sesorang tidak akan memiliki alasan tidak mengetahuinya lagi apabila ketentuan tersebut telah diundangkan, sehingga jika melanggar ketentuan, maka yang bersangkutan akan tetap disanksi, meski pada kenyataan yang sebenarnya memang belum tahu.

Dalam pandangan Teguh Wibowo, pendidikan publik penting dilakukan dalam rangka berupaya mewujudkan tatanan masyarakat yang melek hukum. Aparat perlu menyampaikan sosialisasi sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada publik. Hal inilah yang dilakukan setiap kali Polres Pamekasan dibawah kepemimpinan Teguh Wibowo hendak memberlakukan kebijakan publik. Pre-emtif dan preventif selalu didahulukan, sebelum akhirnya mengambil tindakan represif, sebagaimana saat pengamanan Malam Tahun Baru 2018 kala itu

Mantan Kasubdit III Ditreskrimum Polda Kalsel itu menjelaskan, pihaknya berkomitmen dan akan terus memelihara kondusifitas Pamekasan. Dari sisi pre-emtif, pihaknya terus melakukan upaya-upaya untuk mencegah terjadinya tindak pidana seperti pembinaan ke masyarakat agar paham sanksi yang diterima jika melakukan kriminal. “Dari sisi prevenif atau tindak lanjut dari upaya pre-emtif yang masih dalam tataran pencegahan sebelum terjadi tindak pidana, kami melakukan sosialisasi tindak pidana. Misalnya mengingatkan warga tidak pakai narkoba dan patrol kewilayahan,” kata mantan Kapolsek Metro Jaya Kebayoran Baru Jakarta Selatan itu.

Selanjutnya, dari sisi represif Polres Pamekasan melakukan penegakan hukum. ”Proses penyelidikan dan penyidikan itu dilakukan setelah kami menerima laporan atau murni dari hasil temuan di lapangan,” katanya, seperti dilansir, jawapos.com, 31 Desember 2018. (Bersambung-3)

0 Response to "Jabatan dan Wasilah Kebajikan Teguh Wibowo"

Posting Komentar