1.348 Perempuan Pamekasan Hidup Menjanda

MADURAKU.COM - Jumlah janda di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur kini terus meningat, dan hingga awal tahun ini terdata sebanyak 1.348 orang, sesuai dengan perkara cerai yang diputus di Pengadilan Agama setempat.

Tahun lalu, yakni tahun 2017, panitera Pengadilan Agama Pamekasan mencatat, angka peceraian di kota Gerbang Salam ini, hanya 1.313 orang. “Jadi ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Pamekasan Hery Kushendar dalam keterangan persnya kepada media belum lama ini.

Penyebab perceraian bervariatif, akan tetapi yang dominan karena masalah ekonomi, disamping karena pihak ketiga dan tidak menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.

“Data yang ada pada kami kasus perceraian di tahun 2017-2018 penyebabnya karena pertengkaran dan perselisihan secara terus menerus. Kalau kasus yang lain bisa dibilang sedikit,” ungkapnya.

“Iya kalau penyebab itu banyak, ada zina, mabuk, judi, meninggalkan salah satu pihak, dihukum penjara, ada lagi poligami, KDRT, cacat badan, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, kawin paksa, murtad, dan ekonomi,” tambahnya.

Dibanding Kabupaten Sumenep, jumlah perceraian di Pamekasan lebih kecil, sebab di kabupaten paling timur di Pulau Madura ini, tercatat sebanya 1.541 perkara hingga awal tahun ini.

“Kalau melihat perkara perceraian tiap bulannya, setelah direkapitulasi, ada peningkatan dibanding dengan tahun lalu. Tahun ini totalnya 1.541. Sedangkan tahun lalu 1.400 perkara,” ungkap Panitera Muda (Pamud) Hukum PA Sumenep, M. Arifin beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang ada, ada banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian di kabupaten paling timur Pulau Madura ini. Dari sekian faktor, yang paling dominan ialah perselisihan yang terus menerus.

Kasus perceraian yang disebabkan adanya perselisihan yang terus menerus mencapai 1.017 perkara. Faktor kedua ialah karena ditinggalkan oleh satu pihak. Angkanya sebanyak 88 perkara.

Faktor lainnya ialah karena persoalan ekonomi 79 perkara; kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 53 perkara; dan ada beberapa faktor lagi, seperti kawin paksa, mabuk, dihukum penjara, zina, cacat badan, dan poligami.

Arifin menjelaskan, sebetulnya pihaknya sudah melakukan beberapa upaya untuk menekan angka perceraian. Di antaranya majelis selalu menasehati agar rukun kembali setiap kali sidang.

“Upaya lainnya ialah dengan cara melakukan mediasi. Mediasi biasanya dilakukan dua kali. Tapi kalau masih ada waktu, bisa lebih dari itu. Cuma kalau ke PA memang niatnya sudah ingin bercerai, biasanya sulit untuk dimediasi. Tingkat keberhasilannya sangat rendah,” katanya, menjelaskan. (MADURAKU.COM)

0 Response to "1.348 Perempuan Pamekasan Hidup Menjanda"

Posting Komentar