Mengenang Sosok Dr Taufiqurrahman

MADURAKU.COM - Transformasi STAIN Pamekasan menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, tidak lepas dari peran (Alm) Dr Taufiqurrahman yang kala itu menjabat sebagai pimpinan di kampus yang beralamat di Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan.

Sebab di bawah kepemimipinannya selama empat tahun, yakni pada periode 2012-2016, berbagai inovasi dan terobosan dilakukan demi meningkatkan dan mengembangkan kelembagaan yang dipimpinnya.

Di antara berbagai terobosan pengembangan kelembangaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, adalah penambahan jumlah program studi (prodi). Dimana sebelumnya tercatat hanya sebanyak lima prodi bertambah menjadi 16 prodi untuk tingkat Strata 1 (S1).

Termasuk juga inovasi dengan membuka program pascasarjana demi memberi peluang bagi para sarjana untuk melanjutkan studi ke jenjang Strata 2 (S2), sekalipun pada saat itu hanya satu prodi, yakni prodi Pendidikan Islam (PI).

Tidak hanya itu, di masa kepemimpinannya juga mulai melakukan inovasi dengan menerapkan sistem digitalisasi dalam sektor pelayanan, padahal sebelumnya masih menggunakan sistem manual yang sudah berlangsung dalam waktu yang relatif lama.

Bahkan satu kebijakan yang tidak bisa dipandang remeh, yakni gagasan merubah status kampus dari sekolah tinggi (STAIN) menjadi Institut (IAIN). Pada saat itu gagasan tersebut mulai digodok bersama jajarannya sekaligus diajukan ke Kemenag RI, hingga akhirnya diresmikan pada masa kepimpinan suksesornya, Mohammad Kosim.

“Sejarah IAIN Madura tidak bisa dilepaskan dari peran besar beliau (Taufiqurrahman) saat menjadi pimpinan, kami yakin beliau orang baik,” kata Achmad Muhlis, salah satu dosen IAIN Madura kepada kepada media Minggu (10/3/2019).

Dari itu pihaknya berharap yang terbaik bagi almarhum, sekaligus dapat mengambil ibrah dan tauladan. “Semoga seluruh amal jariahnya diterima dan menjadi pengahapus dosa dan kesalahanya serta menjadi wasilah ditinggikan derajadnya. Semoga kita bisa meneruskan perjuangnnya, Amin,” harapnya.

Tidak hanya dalam pengembangan kelembagaan, almarhum juga dikenal sebagai salah satu sosok yang berperan aktif mencetuskan konsep Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam) yang menjadi jargon Kabupaten Pamekasan.

“Di antara amal jariyah al-Marhum juga sebagai konseptor dan pengusul nama Gerbang Salam. Semoga menjadi amal shaleh yg pahalanya terus mengalir pada al-Marhum. Amin Ya Rabb al-‘alamin,” tutup Wakil Rektor (Warek) II IAIN Madura, Moh Zahid.

Doktor pertama di STAIN Pamekasan ini juga dikenal memiliki pemikiran yang terbuka, dan antidiskriminatif, sehingga diterima di semua golongan. Di masa kepemimpinannya juga citra STAIN bisa lebih baik, karena dikenal piawai dalam melakukan komunikasi dengan semua kalangan.

Dr Taufiqurrahman meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya di RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan, Sabtu (9/3/2019) kemarin. Ia dikebumikan di TPU Al-Ghazali, Jelbudan, Pamekasan. (MADURAKU.COM)

0 Response to "Mengenang Sosok Dr Taufiqurrahman"

Posting Komentar